INDIKATOR PELAYANAN KESEHATAN



INDIKATOR PELAYANAN KESEHATAN
Pelayanan kesehatan yang bermutu adalah pelayanan kesehatan yang dapat memuaskan setiap pemakai jasa pelayanan kesehatan sesuai dengan tingkat kepuasan rata-rata penduduk  serta penyelenggaraanya sesuai dengan standart dan kode etik yang telah ditetapkan.
Keberadaan fasilitas kesehatan sangat menentukan dalam pelayanan pemulihan kesehatan, pencegahan terhadap penyakit, pengobatan dan keperawatan serta kelompok dan masyarakat yang memerlukan pelayanan kesehatan
Disebutkan dalam pasal 28H , bahwa setiap orang  berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Selanjutnya pada pasal 34 ayat 3 dinyatakan bahwa negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.

PELAYANAN KESEHATAN DASAR
            Upaya pelayanan kesehatan dasar merupakan langkah awal yang  sangat penting dalam memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat. Dengan pemberian pelayanan kesehatan dasar secara cepat dan tepat, diaharapkan sebagian besar masalah kesehatan masyarakat dapat teratasi.
JENIS PELAYANAN
1.Pelayanan Kesehatan Dasar(18 indikator)
2.Pelayanan Kesehatan Rujukan(2 indikator)
3.Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa/KLB(1 indikator)
4.Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat(1 indikator)




PERMASALAHAN KESEHATAN “KURANG GIZI”



PERMASALAHAN KESEHATAN “KURANG GIZI”

            Keadaan gizi masyarakat Indonesia saat ini masih memprihatinkan, walaupun berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasinya. Banyak faktor yang mempengaruhi masalah gizi, baik itu langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu untuk mengatasinya diperlukan pendekatan terpadu dari berbagai sektor.
            Masalah gizi berdampak terhadap kualitas sumber daya manusia yang sangat diperlukan dalam pembangunan, maka tujuan jangka panjang program perbaikan gizi diarahkan untuk tercapainya keadaan gizi yang optimal bagi seluruh penduduk yang dicerminkan dengan semakin meningkatnya jumlah keluarga yang berperilaku gizi seimbang
            Permasalahan kekurangan gizi yang  terjadi, itu merupakan tanggung jawab kita semua. Penanganan warga yang terkena kekurangan gizi menjadi salah satu fokus kita kedepannya.
Untuk menangani hal tersebut maka perlu dilakukan 4 (empat) strategi yaitu:
1.    Pemberdayaan keluarga,
2.    Melakukan advokasi, sosialisasi dan mobilisasi kepada para pengambil keputusan,
3.    Mengembangkan jaringan kemitraan, dan
4.    Melakukan pemberdayaan petugas dalam menangani masalah yang ada

Untuk meminimalisir kondisi kekurangan gizi, maka diperlukan kerja sama dari berbagai sektor, yaitu:

1.  Masyarakat
            Masyarakat dapat berperan dalam meminimalisir kasus kekurangan gizi  yaitu dengan meningkatkan layanan posyandu. Pelayanan Posyandu harus dihidupkan lagi hingga ke pelosok daerah. Posyandu di masa lampau telah menunjukkan kinerja yang efektif dalam penemuan dan penanganan masalah-masalah kesehatan anak dan ibu, hingga pelosok daerah. Revitalisasi Posyandu, menjadi suatu langkah yang paling mungkin untuk dilakukan.

2. Peran Pemerintah
            Pemerintah Daerah apabila betul-betul berkomitmen dalam hal ini, dapat memberi penguatan pada sukarelawan, misalnya memperhatikan logistik, transportasi, dan kemudahan fasilitas infrastruktur, demi kelancaran tugas para sukarelawan Posyandu. Lebih dari itu, adalah komitmen bersama untuk bersungguh-sungguh dalam upaya pengentasan kekurangan gizi pada anak, tanpa komitmen, upaya apapun akan berjalan sia-sia.

3. Peran DinKes
            Dinkes lebih melakukan  upaya pemulihkan warga yang terkena kekurangan gizi agar dapat kembali sehat seperti semula. Untuk itu kedepannya peningkatan peran Posyandu agar lebih dimaksimalkan guna meminimalkan adanya kekurangan gizi. Karena posyandu merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan yang paling depan dan langsung menyentuh ditengah-tengah masyarakat. Selain itu kepada kepala lingkungan dan lurah juga diharapkan lebih memperhatikan masyarakatnya agar tidak terkena kekurangan gizi selain lebih memaksimalkan peran posyandu, dalam upaya meminimalisasi kekurangan gizi pihaknya juga akan melakukan pemetaan terhadap kasus kekurangan gizi tersebut dengan melibatkan lintas sektoral.
            Selain berbagai sektor diatas, perlu juga peran serta sektor lainnya yang terkait seperti Badan Ketahanan Pangan dan Dinas Sosial dalam hal penanganan kekurangangizi.

























DAFTAR PUSTAKA

http://www.fateta.ipb.ac.id/index.php/Berita-Terbaru/penanganan-masalah-gizi-di-indonesia

PUGS(Pedoman Umum Gizi Seimbang)



                                                                  
PUGS


            Pedoman umum gizi seimbang (PUGS) memuat 13 pesan dasar dengan tujuan memperbaiki perilaku hidup sehat terutama memahami dan mempraktekkan pedoman gizi seimbang dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pesan penting adalah melakukan aktivitas fisik dan berolahraga secara teratur sebagai bentuk pola hidup sehat.
 Penyakit jantung adalah penyakit non infeksi, salah satu yang paling banyak diderita dan merupakan penyebab kematian paling tinggi dimasyarakat adalah penyakit jantung koroner (PJK). Penyakit jantung ini lebih disebabkan oleh perubahan pola kebiasaan hidup masyarakat, hal tersebut akan bertambah semakin parah jika masyarakat tidak memiliki pengetahuan tentang pengetahuan gizi dan prinsip pedoman gizi seimbang.
sebagian besar dari penurunan angka kematian dan penyakit jantung  erat hubungannya dengan pola hidup terutama pengurangan kebiasaan merokok, perbaikan pola makan, dan kebiasaan melakukan latihan olahraga. Oleh karena itu upaya pencegahan paling baik yang dapat dilakukan adalah dengan pendidikan perilaku hidup sehat terutama dengan memahami dan menerapkan pedoman gizi seimbang dalam kehidupan sehari-hari, dan bagi masyarakat beresiko dapat diberikan pengetahuan tentang gizi dan menjaga kebugaran diri

Pengetahuan sebagai aspek dasar untuk pemahaman membantu seseorang untuk mengambil sikap yang benar, selanjutnya dengan sikap yang benar seseorang akan melakukan suatu tindakan yang benar. Tindakan yang didasari oleh pemahaman akan bersifat langgeng dibandingkan yang tidak didasari pemahaman. Pengetahuan yang benar tentang gizi dan kebugaran dapat membuat seseorang memahami dan kemudian berupaya untuk menerapkannya dalam kehidupan sehingga terwujud pola hidup sehat. PUGS yang digunakan sebagai dietary guidelines Indonesia ini memiliki pesan universal membiasakan makan beraneka ragam dengan jenis dan porsi yang tepat.
PUGS dibahas pertama kali dalam Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi V tahun 1993 sebagai penyempurnaan slogan 4 sehat 5 sempurna (Ranch Market, 2006). Salah satu pesan penting adalah melakukan aktivitas fisik dan berolahraga secara teratur sebagai bentuk pola hidup sehat.
Pugs bertujuan untuk menrubah pola pikir masyarakat tentang pedoman gizi yang seimbang supaya bisa merubah pengetahuan, sikap yang nantinya akan mengarah ke perilaku masyarakat yang sesuai dengan pedoman gizi seimbang.  Tindakan yang dilakukan atas dasar pemahaman akan berlangsung lebih langgeng dari pada yang tidak didasari pemahaman, sehingga masyarakat akan berupaya untuk menerapkanya dalam kehidupan.
Adapun 13 pesan dasar PUGS yang ditanyakan beserta kriterianya adalah sebagai berikut :
a. Makanlah beraneka ragam makanan, tujuan pesan ini adalah agar kebutuhan gizi seseorang tercukupi secara lengkap yang terdiri dari karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral. Kriteria penilaian : konsumsi setiap kali makan terdiri dari 5 jenis : makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayur dan buah.
b. Makanlah makanan untuk memenuhi kecukupan energi, tujuan pesan adalah agar seseorang dapat menjalankan aktivitas fisik seperti bekerja, belajar, berpikir atau pun berolahraga. Kriteria penilaian : jumlah asupan sehari sesuai dengan angka kecukupan gizi.

Makanlah sumber karbohidrat setengah dari kebutuhan energi sehari, tujuan pesan adalah agar konsumsi sumber karbohidrat yang diperoleh dari makanan pokok tidak berlebihan. Kriteria penilaian : jumlah energi dari makanan pokok memenuhi 50% kebutuhan energi sehari.
d. Batasi konsumsi lemak dan minyak seperempat dari kebutuhan energi sehari, tujuan pesan adalah agar konsumsi lemak dan minyak dalam makanan sehari-hari sebaiknya 15 – 25 % dari kebutuhan energi untuk menurunkan resiko penyakit jantung. Kriteria penilaian : asupan lemak maksimal 25% kebutuhan energi sehari.
e. Gunakan garam beryodium, tujuan pesan adalah menurunkan kejadian gangguan kesehatan akibat kekurangan yodium (GAKY) di Indonesia. Kriteria penilaian : selalu menggunakan garam beryodium dalam masakan dengan teknik yang benar.
f. Makanlah makanan sumber zat besi, tujuan pesan adalah mengatasi masalah anemia gizi besi yang dapat menghambat upaya pengembangan kualitas sumberdaya. Kriteria penilaian : konsumsi bahan pangan sumber zat besi cukup.
g. Berikan Air Susu Ibu (ASI) saja sampai bayi umur 6 bulan, tujuan pesan adalah agar ibu menyusui hanya memberikan ASI saja selama 6 bulan tanpa tambahan makanan lain (ASI ekslusif). Kriteria penilaian : memberikan ASI ekslusif minimal 4 bulan.
h. Biasakan makan pagi, tujuan pesan adalah agar setiap keluarga selalu menyempatkan makan pagi untuk mendukung produktivitas dan daya tahan dalam beraktivitas. Kriteria penilaian : membiasakan sarapan pagi.
i. Minumlah air bersih dan aman yang cukup, tujuan pesan adalah agar memakai air bersih dan matang untuk keperluan konsumsi. Kriteria penilaian : minum air matang (mineral) minimal 8 gelas.
j. Lakukan aktivitas fisik dan olehraga secara teratur, tujuan pesan adalah agar menjaga kebugaran dan kesehatan dengan berolahraga. Kriteria penilaian : aktif berolahraga minimal 2 kali seminggu.

k. Hindari minum minuman berakohol, tujuan pesan adalah supaya setiap orang tidak minum minuman beralkohol yang memiliki dampak negatif bagi kesehatan. Kriteria penilaian : tidak minum minuman beralkohol.
l. Makanlah makanan yang aman bagi kesehatan, tujuan pesan adalah agar makanan yang dikosumsi bergizi lengkap, bebas bahan kimia dan layak sehingga aman bagi kesehatan. Kriteria penilaian : selalu memilih makanan yang baik kualitasnya (bergizi, bebas bahan kimia, layak dan aman dikonsumsi).
m. Bacalah label pada makanan yang dikemas, tujuan pesan adalah membiasakan masyarakat untuk memilih makanan berlabel jelas dan membaca label pada makanan kemasan yang akan dibeli. Kriteria penilaian : memilih dan membaca label makanan kemasan yang dibeli.